Make your own free website on Tripod.com
Artikel Bahasa Melayu
Paradigma Terorisme

HOME

Teka-Teki Tragedi 911
Mengungkap Kemisteriusan Hambali (1)
Mengungkap Kemisteriusan Hambali (2)
Menakar Legitimasi Daftar Teroris (1)
Menakar Legitimasi Daftar Teroris (2)
Rekonstruksi Peradaban untuk Melawan Terorisme
Geopolitik Islam vis--vis Barat
Terorisme Dalam Perspektif Barat dan Islam
Fundamenlatisme Dan Kekerasan Agama
Terorisme Dalam Perspektif Barat dan Islam
Terorisme Dalam Perspektif Barat dan Islam
Mahathir dan Terorisme Ekonomi
Terorisme, Militan, dan Zionisme
Paradigma Terorisme

 

Paradigma Terorisme
Oleh: Mohamad S Iman
 


"Man can be destroyed, but not defeated".


Dengan peristiwa pengeboman WTC, Legian, dan Marriott, umat Islam, khususnya di
Indonesia merasakan satu tekanan psikologis yang maha dahsyat. Di satu sisi ikut empati dan simpati terhadap korban, di sisi lain dirinya seakan menjadi tertuduh. Semua 'mata sinis' dunia tertuju kepada komunitas muslim di sini. Sekalipun belum jelas siapa pelakunya, namun opini publik seolah telah memvonis bahwa pelakunya pasti muslim. Seakan terdapat satu pandangan yang diterima umum bahwa terorisme ekuivalen dengan Muslim.



Ketersudutan telah menimbulkan respon beragam dari umat Islam. Namun posisi politik umat Islam, baik sebagai negara maupun warga negara, khususnya di
Indonesia, tidak begitu signifikan dalam mengubah pendapat publik ini. Terasa ada arus kuat yang demikian besar yang tidak dapat dibendung dalam sekejap. Mengapa demikian?



Mencermati fenomena di atas, penulis teringat pada buku yang ditulis Thomas Kuhn "The Structure of Scientific Revolution". Di sini kita menjadi tahu betapa manusia sangat dipengaruhi oleh apa yang Kuhn sebut sebagai paradigma. Sedikit manusia yang dapat melepaskan diri dari kungkungan paradigma.
Para ilmuwan -- manusia yang dinobatkan sebagai paling objektif dan rasional -- pun tidak terlepas dari kungkungan paradigma yang berlaku. Per definisi, paradigma adalah pola atau cara pandang terhadap suatu objek yang diterima secara luas sehingga menjadi fondasi bagi eksplorasi objek tersebut lebih jauh.



Kuhn menegaskan, revolusi ilmu pengetahuan terjadi karena munculnya paradigma. Lahirnya teori-teori besar ilmu pengetahuan selalu diawali oleh munculnya berbagai pandangan yang menjelaskan objek ilmu tertentu (fenomena alam). Secara alamiah akan muncul pandangan yang paling mampu menjelaskan perilaku objek ini, yang kemudian menjadi ''normal science''. Karena keajegannya menjelaskan banyak masalah, sains normal ini berubah menjadi paradigma.
Para ilmuwan muda berikutnya, setiap kali menjelaskan fenomena yang melibatkan objek ilmu tadi, selalu berangkat dari paradigma ini.



Kuhn tidak menjelaskan bahwa pengaruh paradigma terhadap para ilmuwan berikutnya negatif, justru sebaliknya. Sebab, sebuah paradigma selalu menyisakan ruang-ruang terbuka untuk pembuktian empiris lebih lanjut. Masalahnya, untuk sebagian besar ilmuwan, kerja-kerja mereka menjadi semacam usaha pemaksaan fenomena alam ke dalam suatu kotak yang sudah disediakan oleh paradigma. Akibatnya, terjadi pemilihan dan pemilahan fakta dan fenomena, sehingga yang tidak cocok dengan kotak tadi sering kali menjadi tidak tampak sama sekali, atau sengaja diabaikan.



Padahal jelas sekali bahwa sering ditemukan banyak fakta dan fenomena yang melenceng dari paradigma, atau perilakunya sulit dijelaskan dengan paradigma. Hanya sedikit ilmuwan yang memahami hal ini. Merekalah yang rajin mengumpulkan berbagai kemelencengan (anomali). Semakin banyak anomali, semakin berkurang validitas paradigma tadi. Lama-kelamaan paradigma itu luluh dan digantikan oleh pandangan lain yang kemudian juga berkembang menjadi paradigma baru. Begitulah seterusnya revolusi ilmu terjadi.



Stereotip bahwa Islam adalah terorisme dan kekerasan mungkin pada awalnya adalah sekadar salah satu dari sekian sudut pandang terhadap Islam. Entah karena semakin banyak bukti-bukti perilaku umat Islam yang mendukung pandangan itu atau direkayasa, stereotip itu saat ini sudah menjadi paradigma yang menguasai pemikiran banyak orang. Dalam kondisi seperti ini, setiap ada kejadian yang berbau kekerasan, dalam benak siapapun -- pengamat, jurnalis, ilmuwan, awam, dan sebagainya -- akan dengan segera muncul asosiasi terhadap Islam. Sekalipun ditemukan ada keganjilan-keganjilan, mereka tetap mencocok-cocokkan sesuai dengan kotak yang sudah disediakan paradigma tadi.



Sebagaimana ilmuwan muda yang penulis sebutkan tadi, saat pencarian bukti-bukti maka yang paling dulu dilakukan adalah mencari orang yang berstatus Muslim atau keturunan Arab. Jelas, objektivitas menjadi terabaikan, bahkan untuk sekadar memikirkan alternatif lain pun menjadi sulit terjadi. Ketika orang-orang Islam tadi tak cukup bukti untuk dituduh sebagai pelaku, boleh jadi akan terus dipaksakan demi menjustifikasi paradigma tadi. Dan manusia secara umum pun akan menjadi kehilangan daya kritisnya ketika sudah sama-sama diselimuti paradigma tadi.



Dalam sains, fakta bersifat objektif sehingga kemampuan suatu paradigma menerangkan objek sangat sulit dimanipulasi. Sementara dalam peristiwa teror, fakta dapat direkayasa sehingga kemampuan suatu paradigma menjelaskan objek pun sangat mungkin manipulatif. Kemudian, dalam sains, ketika anomali demikian hebat maka sebuah pardigma terbuka untuk dirobohkan oleh paradigma baru. Sementara dalam kasus teror, banyaknya anomali tidak dengan serta merta dapat merobohkan paradigma, tergantung pada 'kuasa perekayasa'. Seperti dalam kasus WTC dan Legian, banyak keganjilan yang mengemuka, namun Amerika, sebagai 'penguasa dunia' dapat tetap mengarahkan opini publik dengan paradigmanya. Dalam konteks ini, mengubah paradigma bahwa terorisme identik dengan Islam sangat bergantung pada posisi politik umat Islam itu sendiri. Jelas, itu adalah jalan sulit, terjal, dan panjang.



Namun, hal itu tak harus membuat kita pesimis. Kita yakin, pasti ada segelintir manusia yang 'tercerahkan'. Mereka adalah orang-orang yang rajin mengumpulkan berbagai keganjilan yang sulit diterangkan dengan paradigma bahwa terorisme adalah Islam. Mereka inventarisir kejadian pemboman gedung FBI oleh Timothy Mc Veigh, kebrutalan Amerika di Timur Tengah, keganasan Israel di Palestina, pemboman sadis oleh para pejuang IRA di Inggris, kenekatan para Tentara Merah dan pengikut Aum Shinrikyo di Jepang, rasisme oleh bule-bule Afsel bahkan bule-bule Amerika, dan s ebagainya. Mereka akan menemukan bahwa kekerasan tidak kongruen dan identik dengan Islam, melainkan dapat terjadi pada agama dan ras manapun. Apalagi bila didukung oleh perilaku kaum Muslim sendiri yang menampilkan wajah Islam sebagai pemberi rahmat semesta, maka paradigma tadi akan luluh. Islam sebagai international terrorism akan tergantikan menjadi international blessing.



Memang mengubah realitas ataupun paradigma tak pernah bisa diciptakan sehari-dua hari. Dia butuh ketekunan dan kesabaran puluhan bahkan ratusan tahun. Dalam sains, dulu paradigma cahaya sebagai partikel halus (
Newton) dirobohkan paradigma gelombang (Young & Fresnel) setelah bertahan kurang lebih 100 tahun. Dan lebih kurang 100 tahun kemudian, muncul paradigma foton (Planck & Einstein) yang merontokkan pardigma gelombang. Dalam sejarah peradaban, dahulu rakyat Eropa selalu membincangkan Islam sebagai rahmat, sementara kekaisaran Romawi sebagai kebengisan. Dengan ketekunan Barat, setelah 500 tahun paradigma berubah menjadi Islam adalah teroris, dan Amerika adalah pembebasan.



Kita patut menyayangkan kini banyak manusia yang 'tidak tercerahkan' sehingga terpedaya oleh paradigma ini. Namun mencaci-maki dan mengumpat, apalagi meneror mereka bukanlah langkah elok. Adalah bijaksana bila kita melakukan advokasi bersama manusi-manusia yang 'tercerahkan', disertai dukungan perilaku bahwa kita adalah rahmat semesta. Ketika hati manusia tersentuh oleh kejujuran, kedamaian, dan kebaikan umat Islam, maka digdayanya kekuasaan tak akan mampu membohongi fitrinya nurani manusia. Seperti kata Hemmingway di atas, manusia dapat saja dihancurkan (raganya), tapi tidak untuk ditaklukan (nuraninya). Dari situlah perubahan paradigma mungkin dapat diharapkan.

 

 

Pemerhati Sosial-Politik, Tinggal di Depok

 

http://www.republika.co.id/cetak_detail.asp?id=138617&kat_id=16

 

05 September 2003

 

Thank you for visiting our web site!